Kepemimpinan 2.0
Ini lho yang di kehendaki oleh Mas Menteri kita
Translate by menemu (menulis dengan mulut) pakai color note baca juga pakai telinga ya (baling)dengan voice alaud reader
Oleh : Elyas
SMK Negeri 1 Yogyakarta
Sempurnakan ya titik komanya hehe...
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Selamat pagi bapak-bapak, ibu-ibu! Apa kabar?? Kurang keras ! Apa kabar?? Terima kasih sudah mengundang saya hari ini, merupakan suatu kehormatan bisa berdiri di depan beberapa kepala sekolah penggerak, pengawas penggerak dan juga asosiasi-asosiasi dari pengawas dan kepala sekolah.
Saya ingin berbicara singkat saja dan setelah itu ingin masuk pada sesi yang lebih seru yaitu tanya jawab. Topik saya hari ini adalah kepemimpinan 2.0. Bagaimana kita bisa merubah pemikiran kita sebagai pemimpin di masa yang baru ini. Karena itu pemimpin harus berani ditanya, harus berani diinterogasi makanya saya mungkin bicara hanya 5 sampai 10 menit saja selanjutnya monggo diinterogasi sama bapak-bapak ibu-ibu.
Kita menghadapi tantangan yang luar biasa beratnya. Era teknologi yang berjalan membuat perubahan yang begitu cepat, kita tidak mungkin bisa memprediksi semua jenis perubahan apa yang dihadapi. Tali tantangan kita Bapak ibu-ibu adalah kita di dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan itu secara otomatis orientasinya ke masa depan, benar nggak? Jadinya kita harus bisa pintar pintar menebak, pada saat anak-anak ini sudah masuk ke dalam dunia nyata, dunia kerja, dunia profesi seperti apa sih kebutuhan mereka?? Bagaimana mereka akan bisa tumbuh dan sukses. ini hal yang sangat rumit. Jadi ada beberapa hal yang saya yakin dan ada beberapa hal yang saya yang nggak yakin. Yang saya nggak yakin itu adalah seperti apa industri ?akan menjadi seperti apa? Saya nggak yakin seperti apa ekonomi kita itu? bisa bermacam-macam permutasinya tapi yang saya yakin adalah apa kompetensi-kompetensi yang akan paling berguna untuk perubahan apapun. Kayaknya Bapak Ibu di sini juga udah tahu itu kompetensi itu apa. Kita dalam hati kita masing-masing itu udah tahu, dalam pergerakan kita setiap hari kita tahu inilah yang kita cari dalam tim kita, inilah yang kita cari dalam bawahan kita, peer kita, dan atasan kita.
Apa sih kompetensi-kompetensi itu ? Biasanya depannya ada c-nya kalau bahasa Inggrisnya
creativity, colaborasi communication critical thinking competition logic (cara berpikir secara matematis dan saintifik) dan juga jangan lupa compassion ( kebatinan kepada sesama). Ini mungkin kompetensi-kompetensi terpenting yang harus kita bentuk bukan hanya kepada murid-murid kita tapi kepada guru-guru kita dan juga pemimpin sistem pendidikan kita.
Ada beberapa hal kepemimpinan .
Perubahan paradigma dari kementerian,kepala sekolah, pengawas.
Saya ingin mengajak bapak ibu merubah paradigma kepemimpinan , dari tadinya itu penguasa atau pengendali atau regulator kita berubah menjadi paradigma kepemimpinan yang melayani. Kita semua jadi pelayan pembantu dari bawahan kita. Ini mungkin perubahan dasar yang terpenting sekarang.
Jadi setiap kali kita melakukan meeting, setiap kali kita bertemu dengan bawahan kita, setiap kali kita berinteraksi, pertanyaan pertama adalah apakah saya telah membantu bawahan saya mengerjakan tugasnya. itu pertama.
Yang kedua adalah untuk memfilter semua aktivitas kita, semua ucapan kita, semua keputusan kita kepada user. User kita adalah murid. Jadi sebelum kita melakukan keputusan, sebelum kita mengarahkan anggaran, sebelum kita bikin acara, sebelum kita bikin pidato, pertama tanya dulu apa dampak positifnya kepada para siswa. Kalau jawabannya tidak ada ya jangan dikerjakan. Kalau jawabannya ya, oh ini baik dampaknya, berarti dikerjakan dan dikembangkan. Jadi pertanyaan itu harus ditanyakan dan itu luar biasa, sangat membantu, sangat berguna bagi kita. Di dalam semua meeting sekarang di Kemdikbud, kita selalu menanyakan itu di awal meeting, Ada ide ? Ada gagasan? Apa gunanya ini? Untuk apa? Apa dampak positifnya kepada siswa?, baru kalau bingung jawabnya artinya ada masalah kalau cepat jawabannya oh jelas ini dampak positifnya berarti kita lanjutkan diskusi.
Ketiga adalah kepemimpinan 2.0 adalah bagaimana pemimpin itu bisa menjadi lebih baik dengan menciptakan suatu lingkungan yang aman. Aman untuk apa?? Aman untuk bawahannya mencetuskan gagasan. aman untuk bawahannya mengkritik atasannya, aman untuk mencoba suatu hal yang baru dengan kemungkinan gagal. Mengulang ya aman untuk melakukan sesuatu yang baru walaupun ada resiko gagal. Bagaimana kita sebagai pemimpin melihat suatu kegagalan atau suatu hal yang tidak berhasil??itu luar biasa pentingnya untuk menciptakan budaya inovatif di dalam organisasi kita.
Kalau ada guru atau kepala sekolah yang ingin mencoba sesuatu yang baru tapi ternyata tidak sukses atau ternyata dampaknya bukan yang diinginkan, itu jangan dimarahin. Malah dikasih jempol oh baik kamu berani mencoba sesuatu nggak papa kita coba yang lain. Itu yang sangat penting. Bapak-ibu saya nyatakan bahwa kegagalan bagi saya sendiri adalah satu-satunya guru yang selalu konsisten mengajar saya. Saya jarang bisa belajar dari sukses malah dari kegagalan lah saya mendapat pelajaran yang terpenting untuk diri saya.Dan semoga ini bisa di internalisasi.
Yang keempat adalah ada beberapa hal untuk menjadi pemimpin yang lebih baik kita harus menanyakan bawahan kita, peer kita, dan user kita satu pertanyaan yang sangat penting. Gimana saya bisa menjadi pemimpin yang lebih baik?? Gimana saya bisa jadi pemimpin yang lebih baik untuk anda. Seberapa sering misalnya pengawas datang ke sekolah dan menanyakan kepala sekolah dan guru, gimana sih biar saya bisa lebih baik melayani Anda, ajarin saya.
Perbincangan itu luar biasa penting dampaknya karena itu memberikan suatu sinyal bapak ibu merubah paradigma kemungkinan dari tadinya itu penguasa atau pengendali atau regulator kita berubah menjadi paradigma kepemimpinan yang melayani. Kita semua jadi pelayan (pembantu) dari bawahan kita. Hal ini mungkin perubahan dasar yang terpenting sekarang. Jadi setiap kali kita melakukan meeting, setiap kali kita bertemu dengan bawahan kita, setiap kali kita berinteraksi, pertanyaan pertama adalah apakah saya telah membantu bawahan saya mengerjakan tugasnya.
Nggak suka sama implikasinya, mohon maaf karena sebenarnya kalau pengawas itu sinyal yang diberikan adalah ia memang harus mengawasi kepala sekolah dan guru. Kenapa harus diawasi? mungkin karena kita tidak memberikan kepercayaan. Jadi mohon sedikit diubah paradigmanya dari yang tadinya cuma mengawal saja malah melayani.
Nah point kelima adalah bagaimana kita bisa menciptakan analisa di dalam kelas di mana pembelajaran itu terjadi. Saya tahu memang ada aturan dan regulasi dan birokrasi itu sangat rumit. Semua ada ceklisnya, semua ada aturan mainnya, saya mengerti itu tapi kita jangan sampai lupa bahwa apa yang berdampak kepada pembelajaran siswa itu hanya terjadi di satu ruang, bukan di ruang meeting, bukan di kantor dinas, bukan di kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bukan di kantor Pemda, tapi di dalam kelas. Apapun yang kita lakukan kalau kita tidak masuk ke dalam kelas dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam kelas, kita tidak akan mungkin tahu apa kualitas pembelajaran yang terjadi. Hal ini relevan untuk guru, kepala sekolah dan pengawas.
Sebenarnya kalau kita ingin mengetahui dan memberikan input input untuk perbaikan pembelajaran aktivitas ini harus dilakukan di dalam kelas,. Guru harus saling menonton guru yang lain di dalam kelas dan memberikan input. Kepala sekolah harus sering-sering jalan ke dalam kelas, duduk observasi, memberikan input input, siapa tau belajar juga teknik-teknik baru. Pengawas pun diharapkan juga bisa duduk di dalam kelas dan mengobservasi jangan cuma 5 menit 10 menit lalu ganti-ganti kelas, lebih baik di satu kelas tapi satu jam agar benar-benar bisa merasakan apa yang dialami siswa-siswa itu.
Poin terakhir saya adalah dari konsep peningkatan kapasitas.
Bukan hanya di kementerian Pendidikan Kebudayaan tapi berbagai macam kementerian dan instansi pemerintahan, pelatihan yang sekarang dilakukan itu kebanyakan kumpul-kumpul di dalam satu ruangan, lalu ada paparan, mungkin ada sesi tanya jawab sebentar setelah itu pulang balik ke hotel. Tapi bagi sistem pendidikan kita, hal yang terpenting adalah antara guru, antara kepala sekolah, antara pengawas untuk berkumpul-kumpul dan bercerita mengenai pengalamannya, bertukar pikiran, berdebat dan menggali informasi dari sesama pelaku pendidik. Inilah yang terpenting kolaborasi.
Bagaimana caranya guru menjadi lebih baik ? Saya yakin 100% kalau di dalam suatu sekolah, semua guru itu saling duduk di kelasnya masing-masing lalu ada guru selalu mendatangi, memberikan motivasi lalu gantian giliran.Selanjutnya mereka berbicara, ini akan terjadi perubahan yang masif. karena pembelajaran dengan cara feedback, pembelajaran dengan cara observasi adalah cara tercepat untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dari guru dan kompetensi kepemimpinan kepala sekolah.
Point terakhir saya adalah untuk menekankan bahwa organisasi yang namanya sekolah itu tidak ada bedanya sama organisasi-organisasi lain. Sekolah iti tempat untuk mencetak generasi berikut kita yang inovatif, kreatif, dan penuh dengan religius atau moralitas. karakter
Murid-murid tidak bisa meningkatkan kemampuan itu artinya yang tadinya semua guru itu hanya bekerja di kelasnya masing-masing, kepala sekolah mengurusi administrasi sekolah, guru mengurus mata pelajarannya dan kelasnya semua terpisah-pisah, tersekat-sekat harus ada perubahan paradigma gimana caranya berkolaborasi di dalam suatu sekolah, Bahwa itu semua murid-muridnya dalam suatu sekolah itu bisa dibantu oleh semua guru. Guru itu harus berkolaborasi sebagai satu tim dan Kepala sekolahnya menjadi koordinator tim tersebut. Kalau itu sekolah bekerja sebagai satu tim berarti nggak ada yang namanya oh ini kelas saya, oh ini bukan kelas saya, oh ini mata pelajaran saya. Bukan, para guru itu akan berkumpul mengeroyok masalah-masalah yang dihadapi berbagai macam anak di dalam sekolah nya dan juga keputusan-keputusan yang diambil sekolah itu bisa dilakukan dengan cara musyawarah, jangan hanya keputusan 1 orang. Ditanya guru-guru apa yang terbaik? bagaimana kita harusnya melakukan budgeting ini ? bagaimana kita harus mengyikapi anak yang butuh perhatian yang lebih tinggi dan lain-lain ? Bekerja sebagai tim dan gak mungkin bisa bekerja sebagai tim kalau guru-guru tidak mengumpul dan menyisihkan waktu untuk memikirkan secara strategis gimana ya kita jadi unit jadi tim yang lebih baik, anggota tim nggak ngumpul, nggak diberikan feedback, nggak ada usulan-usulan gimana strateginya. Perbincangan itu jangan diremehkan, perkumpulan antara guru di dalam sekolah itu jangan diremehkan. Hal itu kuncinya keberhasilan suatu tim.
Saya mengajak berbagai macam ini dengan keyakinan bahwa reformasi pendidikan ini harus menjadi suatu pergerakan, pergerakan dari atas dan pergerakan dari bawah baru dah di tengah kita kan bertemu untuk melakukan perubahan yang benar-benar permanen. Jangan cuman untuk beberapa tahun ke depan aja. PR saya banyak sekali, PR di Kemendikbud banyak sekali. Kitalah yang akan secara terstruktur memberikan berbagai macam kebebasan dan pelayanan yang lebih baik kepada bapak ibu-ibu tapi kalau nunggu kita aja enggak bakal nyampe. Kalau 5 tahun ini harus mulai bergerak dari bawah, harus mulai maju untuk memerdekakan sistem pelajaran kita dan memerdekakan siswa-siswi kita se-indonesia terima kasih
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Komentar
Posting Komentar